Mantra Sakti Pejinak Simpati



Abdul Rasyid Tunny,
Penulis adalah Akademisi, Alumnus Keperawatan UMI

SELURUH anak manusia di negeri ini sama kedudukannya dalam ruang demokrasi. Rakyat berdaulat katanya begitu dan begitu katanya. Atas nama itulah demokrasi dikukuhi tanpa ada alibi atau demokrasi disulap menjadi instrumen  untuk menghipnotis rakyat dengan sebutan pemegang kedaulatan walau seringkali rakyat sendiri sebagai pemegang kedaulatan kena mantra tipuan.

Pemilihan calon anggota legislatif yang acapkali disingkat Caleg sudah mewarnai ruang-ruang komunitas dalam skala yang menggairahkan meski semakin meresahkan dan menggelikan. Mantra calon anggota legislative selalu diawali dengan kata "Mohon Doa Restu."

Spanduk dan baliho mengajak akar rumput untuk ikut serta dalam tepuk tangan, dikemas dengan tebaran mantra ala poltikus (saya tak mau sebut politisi) semakin ramai mewarnai jalanan kota hingga desa. Ini adalah fenomena nyata dan biasa dalam demokrasi yang menggelikan dan terkadang pula memalukan.

Kesumpekan akar rumput dengan beragamnya problematika hidup mulai dari harga sembako sampai tariff dasar listrik yang tidak terjangkau kini bertambah berat dengan beban batin melihat banyak baliho dan poster-poter partai yang memansang wajah gagah dan perksa. Para Calon anggota legislatif dengan enteng memamer dan memajang diri dengan mantra-mantara pejinak rakyat. Kita dikepung banjir poster dan baliho.

Jika suatu ketika anda temui hal ini maka bersiap-siaplah tarik nafas dalam-dalam dan menelan ludah sebelum kecewa. Sebab di sudut kiri, terpampang foto wajahnya yang didesain sedemikian rupa agar secara visual tampil rupawan dan cantik memesona. Di sebelahnya lagi tertulis deretan gelar akademis, gelar kebangsawanan, gelar keagamaan, hubungan kekerabatan dengan tokoh parpol dan status sosial lain. Nah, dibagian bawahnya tak lupa dituliskan janji politik sang caleg. Bahkan ada sebuah tulisan yang gagal logika "Berikan bukti bukan janji".

Mantra berikan bukti tapi janji hanyalah gombalan poltikus, mereka tak lebih seperti pengelola mal atau pusat perbelanjaan yang suka menggelar obral diskon. Wajar saja jika acap kali kita temui berbagai mantra-mantra suci. Dari persoalan inilah ingatan saya kembali pada slah satu actor yang berteriak "Kami tak hanya pandai berikan janji, tapi kami pandai memberikan bukti. Semuanya akan kami tingkatkan, kesehatan, usaha kecil, pangan, dan energi."

Tepuk tangan keras dengan memasang wajah tak berdosa berdatangan dari segerombolan politikus rakus. Mereka telah memohon, dan rakyat jualah yang akan mengabulkan permohonan itu. Siap-siaplah mendengarkan mantra yang esok waktu akan semakin kencang bunyinya. Kini saatnya kita mesti sadar bahwa kita tak mesti percaya pada janji-janji. Dunia ini memang menjanjikan: janji tentang kekayaan, keselamatan bahkan rasa cinta yang punya batasan. Tapi nyatnya? Mengecewakan juga.

Subscribe to receive free email updates: